Demo Blog

keadaan sosial dan ekonomi masyarakat disekitar tempat pembuangan sampah terpadu bantar gebang bekasi

by bonjer on Nov.22, 2009, under

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Peningkatan jumlah penduduk di DKI Jakarta yang sangat pesat memberikan dampak terhadap peningkatan volume sampah. Upaya mengurangi volume sampah yang pernah di lakukan dengan cara membakar di lahan terbuka telah banyak menimbulkan masalah seperti polusi asap dan debu. Oleh karena itu diperlukan lokasi pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan ambang batas lingkungan hidup.

Kemudian muncullah tiga gagasan yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran akibat semakin bertambahnya volume sampah, yaitu dikubur, dibakar, dan sanitary landfill. Berdasarkan tiga pilihan tersebut pengolahan dengan metode sanitary landfill dianggap paling efektif. Karena sanitary landfill adalah metode pembuangan akhir limbah dengan menggunakan teknik tertentu sehingga tidak menimbulkan pencemaran yang membahayakan kesehatan.

Dari keadaan tersebut, kemudian pemerintah DKI Jakarta menetapkan salah satu tempat di wilayah Kecamatan Bantargebang sebagai tempat pemusnahan akhir sampah. Areal ini semula merupakan bekas lahan galian tanah untuk kepentingan pembangunan beberapa perumahan di Jakarta, seperti Sunter, Podomoro, dan Kelapa Gading serta perbaikan jalan di Narogong pada tahun 1986.

Munculnya masalah dampak TPST Bantargebang diawali dengan adanya perubahan status kota administratif menjadi kota Bekasi pada tahun 1996. Akar permasalahannya kemungkinan disebabkan tidak jelasnya pengolahan dan kurangnya perhatian terhadap TPST. Keadaan ini semakin di perparah dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997. Krisis ekonomi tersebut juga menyebabkan banyak terjadinya pemutusan hubungan kerja, pengangguran dan tingginya harga kebutuhan bahan pokok. Sampah dijadikan tumpuan sumber penghasilan bagi para pemulung yang memiliki rumah liar di sekitar TPST. Dampak sosial yang timbul diantaranya adalah terjadinya pencurian ratusan pipa paralon pada Sanitary landfill yang berfungsi untuk membuang gas metan sehingga menyebabkan saluran mengalami kebuntuan. Akibatnya timbul kebakaran di beberapa zona TPST sehingga menimbulkan asap. Di samping itu timbul pula bau yang menebar hingga mencapai jarak lebih dari 10 Km dari Bantargebang.

Oleh karena itu untuk mengurangi dampak akibat semakin bertambahnya volume sampah, penulis mengajak masyarakat dari semua golongan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, seperti yang diriwayatkan berikut ini :

النظا فة من الايمان

Artinya : Kebersihan itu sebagian dari Iman

Untuk itu marilah kita dengan hati yang ikhlas, senantiasa menjaga kebersihan lingkungan karena dengan menjaga kebersihan lingkungan insya Allah iman kita juga akan senantiasa terjaga. Amien

B. TUJUAN PENELITIAN

Penulisan karya tulis ini diharapkan memberi manfaat untuk masyarakat baik sekarang maupun masa yang akan datang.

Secara terperinci tujuan penulisan untuk :

a. Mengetahui kondisi ekonomi masyarakat disekitar TPSTBantargebang

b. Mengetahui kondisi kesehatan masyarakat disekitar TPST Bantargebang

c. Mengetahui dampak sosial bagi masyarakat disekitar TPST Bantargebang

C. PEMBATASAN MASALAH

Penulis membatasi penelitian pada “keadaan sosial dan ekonomi masyarakat disekitar TPST Bantargebang” .

D. PERUMUSAN MASALAH

Dengan melihat latar belakang tersebut, maka penulis akan membahas beberapa masalah, pembahasan dalam karya tulis ini meliputi :

a. Bagaimana kondisi ekonomi masyarakat disekitar TPST Bantargebang?

b. Bagaimana kondisi sosial masyarakat disekitar TPST Bantargebang?

c. Apakah dampak yang ditimbulkan TPST Bantargebang bagi masyarakat sekitarnya?

d. Apakah dampak yang ditimbulkan TPST Bantargebang bagi lingkungan sekitarnya?

E. METODOLOGI PENELITIAN

Penulis melakukan penelitian dengan metode-metode sebagai berikut :

a. Observasi : Penulis melakukan penelitian langsung terhadap keadaan masyarakat di sekitar TPST Bantargebang

b. Wawancara : Melakukan tanya jawab kepada masyarakat dan pengelola TPST Bantargebang

c. Study Pustaka : Teknik pengambilan data-data dengan cara mencari informasi melalui surat kabar dan buku-buku

BAB II

TEORI DAN PEMBAHASAN

A. KAJIAN TEORI

1. PENGERTIAN ILMU SOSIAL

Ilmu sosial atau ilmu pengetahuan sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya. Ilmu ini berbeda dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia, termasuk metoda kuantitatif dan kualitatif.

Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan interdisiplin dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif dan kualitatif telah makin banyak diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi dan konsekuensinya.

Cabang-cabang utama dari ilmu sosial adalah:

Ø Antropolpgi, yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu

Ø Ekonomi, yang mempelajari produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat.

Ø Geografi, yang mempelajari lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi.

Ø Hukum, yang mempelajari sistem aturan yang telah dilembagakan.

Ø Linguistik yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa.

Ø Pendidikan, yang mempelajari masalah yang berkaitan dengan belajar, pembelajaran, serta pembentukan karakter dan moral.

Ø Politik, yang mempelajari pemerintahan sekelompok manusia (termasuk negara).

Ø Psikologi, yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

Ø Sejarah, yang mempelajari masa lalu yang berhubungan dengan umat manusia.

Ø Sosiologi. yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya.

2. PENGERTIAN ILMU EKONOMI

Dalam kehidupan sehari-hari, pasti Anda sering mendengar istilah ekonomi. Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani. Oikos berarti rumah tangga, dan nomos berarti aturan. Perubahan kata ekonomis menjadi ekonomi mengandung arti aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga. Rumah tangga dalam hal ini dapat meliputi rumah tangga perorangan (keluarga), badan usaha atau perusahaan rumah tangga pemerintah.

Sebelum orang mengenal ilmu ekonomi, raja-raja dan para ilmuwan pada jaman dahulu menggunakan ilmu filsafat sebagai dasar untuk mengatur dan memecahkan persoalan ekonomi. Dengan semakin pentingnya peranan ekonomi dalam kehidupan, mulailah banyak ahli yang tertarik untuk memecahkan persoalan ekonomi, karena filsafat tidak lagi sanggup memecahkan seluruh masalah yang berkembang di masyarakat.

Dalam perkembangannya, kita mengenal seorang tokoh sekaligus sebagai Bapak Ekonomi yaitu Adam Smith (1723 - 1790). Dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation, biasa disingkat The Wealth of Nation, yang diterbitkan pada tahun 1776. Secara sistematis untuk pertama kalinya Adam Smith menguraikan kehidupan ekonomi secara keseluruhan serta menunjukkan bagaimana semua itu berhubungan satu sama lain. Sejak itu jumlah pemikir ekonomi bertambah banyak, dan akhirnya ilmu ekonomi mengalami perkembangan yang pesat sebagai suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri.

Ilmu ekonomi merupakan suatu bahan kajian yang mempelajari upaya manusia memenuhi kebutuhan hidup di masyarakat dalam meningkatkan kesejahtraan. Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi kemudian bercabang-cabang mengikuti perkembangan kehidupan ekonomi itu sendiri. Secara garis besar, perhatikan bagan pembagian ilmu ekonomi berikut ini.

Ilmu ekonomi deskriptif adalah kajian yang memaparkan secara apa adanya tentang kehidupan ekonomi suatu daerah atau negara pada suatu masa tertentu.Misalnya:
- Ekonomi Indonesia pada tahun 70-an.
- Ekonomi Jepang pasca perang dunia II.

Selain itu ilmu ekonomi juga dibahas khusus secara teori yaitu makro ekonomi dan mikro ekonomi. Ilmu ekonomi teori ini membahas gejala-gejala yang timbul sebagai akibat perbuatan manusia dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam hal ini makro ekonomi, mengkaji tentang pendapatan nasional, kesempatan kerja, pengangguran, inflasi.

Mikro ekonomi, hanya mempelajari bagian-bagian dari teori ekonomi secara lebih mendalam seperti: pembentukan harga, rumah tangga produksi, konsumen.

Cabang yang ketiga dari ilmu ekonomi adalah ekonomi terapan. Ilmu ekonomi terapan merupakan cabang ilmu yang membahas secara khusus tentang penerapan teori ekonomi dalam suatu rumah tangga produksi, misalnya: ekonomi perusahaan, ekonomi moneter, ekonomi perbankan.

3. STANDAR EKONOMI DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Berapa penghasilan minimal yang paling pas untuk bekerja?. Ini pertanyaan yang jawabnya susah-susah gampang, karena tingkat kesejahteraan ataupun kepuasan upah itu relatif. Ada yang sudah puas dengan gaji sekian juta rupiah, namun ada yang merasa kurang dengan pendapatan yang perbulannya sudah puluhan juta rupiah. Artinya ada beberapa kebutuhan spesifik yang memang tidak bisa dibandingkan satu sama lainnya.

UMR tahun 2009 sudah naik lebih dari tiga kali lipat daripada tahun 2000, namun tetap kesejahteraan pekerja masih belum diperoleh. Secara normatif, pendapatan UMR tahun 2009 bahkan lebih rendah kualitasnya jika dibandingkan pendapatan pekerja tahun 2000, jika menggunakan emas sebagai pembanding.

Memang, menggunakan uang kertas memberikan ilusi peningkatan atau kesejahteraan, dengan memberikan statistik bahwa sudah terjadi peningkatan kesejahteraan bagi pekerja atau penduduk indonesia dalam rupiah.

Lantas, apa patokan atau standar untuk menghitung tingkat kesejahteraan. Ada standar yang lebih pas untuk menghitung ukuran tingkat kesejahteraan bagi penduduk. Standar ini mengadopsi sistem dari Islam, yakni berdasarkan zakat. Dalam Islam, jika ada seorang dewasa memiliki harta likuid lebih 20 dinar emas, maka wajib kena zakat harta yakni sebesar 2.5% dari harta tersebut. Dibawah tersebut, tidak wajib zakat bahkan malah mesti mendapat zakat artinya sudah termasuk kategori miskin.

Berapa dalam rupiah jumlah 20 dinar emas itu? Jika mengacu harta riil sekarang, atau dengan kurs rupiah tahun 2009 sekitar Rp. 27 juta rupiah / setahun. Artinya seseorang yang memiliki harta likuid setahun diatas 27 juta rupiah, katakanlah 30 juta, maka kena zakat 2.5% sampai hartanya mencapai nilai 27 juta atau dibawahnya, tidak kena zakat lagi. Dalam arti lain, batas seseorang dianggap miskin, jika memiliki penghasilan dibawah 27 juta/ tahun atau sekitar Rp. 2.250.000 / bulan untuk tahun 2009. Di tahun 2000, ukuran standar miskin berbeda, karena nilai rupiah yang berbeda. Untuk tahun 2000, seseorang dianggap miskin jika penghasilannya setahun dibawah Rp. 6.000.000 atau per bulannya sekitar Rp. 500.000. Coba perbandingkan, beda sekali antara standar miskin tahun 2000 dengan tahun 2009 dalam rupiah, padahal jika dihitung dalam dinar emas nilainya tetap yakni 20 dinar emas.

Inilah bentuk standar ukuran kesejahteraan yang paling pas dan adil baik itu bagi pekerja ataupun penduduk indonesia. Mengadopsi prinsip standar kesejahteraan dalam islam ini, untuk ekonomi indonesia merupakan sesuatu yang sangat tepat karena tetap relevan dimanapun dan kapanpun. Nilai diatas memang nilai yang benar-benar pas, artinya seseorang dengan pendapatan melebihi standar diatas, sudah dianggap tidak miskin atau mampu hidup layak secara sederhana. Dibawah standar tersebut, maka orang atau penduduk berada kategori miskin, layak dibantu oleh masyarakat yang memiliki penghasilan diatas standar sehingga tercipta keadilan dimana penduduk miskin tetap terjamin haknya untuk hidup layak dan bermartabat, dengan bantuan yang diciptakan oleh sistem zakat dalam Islam.

B. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. HASIL

A. LETAK DAN LUAS WILAYAH

Kecamatan Bantar Gebang merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kota Bekasi. Kecamatan ini berdiri pada tahun 1981 dan merupakan pemekaran dari kecamatan Setu. Kecamatan Bantar Gebang secara geografis terletak antara 1070 21’- 1070 10’ Bujur Timur dan 6 0 17’- 6 0 27’ Lintang Selatan, dengan batas-batas sebagai berikut:

Ø Sebelah Utara berbatasan dengan daerah Tambun.

Ø Sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Bogor.

Ø Sebelah Timur berbatasan dengan daerah Setu.

Ø Sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Bogor.

Daerah Bantar Gebang dan sekitarnya dilalui oleh jalur utama Jalan Raya Bekasi - Bogor dan sekaligus sebagai daerah industri, permukiman, dan pertanian (Data Monografi Desa/Kelurahan, 2007).

B. TATA GUNA LAHAN

Luas wilayah bantargebang bekasi adalah 4.478.803 Ha yang terdiri dari lahan perumahan dan permukiman 1.640.899 Ha, lahan sawah seluas 1.206.036 Ha, pertanian darat 1.336.735 Ha dan penggunaan lain- lain seluas 295.131 Ha. Dari delapan dasa yang ada tiga diperuntukan sebagai lokisi pemusnahan akhir sampah seluas 108 Ha, yaitu desa Ciketing udik, desa Cikiwul, dan desa Sumur batu. Berdasarkan fugsinya desa bantargebang diperuntukan untuk jalur industri ringan, desa Pedurenan, desa Mustika jaya dan desa Mustika sari diperuntukan sebagai jalur perumahan dan desa Sumur batu untuk area holtikultura. Penggunaan kahan di kecamatan Bantargebang adalah lahan pemukiman yang mencapai 52,60%. sebanyak 13% lahan pertanian darat dan 11,60% lahan sawah yang telah dijadikan lahan perumahan untuk menampung para pendatang karena kota bekasi merupakan daerah penyangga bagi provinsi DKI Jakarta.

C. SEJARAH BERDIRINYA TPST BANTARGEBANG

Pada tahun 1986 pemerintah DKI Jakarta mulai membangun TPST Bantargebang. Bantargebang dinilai sangat cocok untuk dijadikan TPST karena lahanya yang cekung dapat dijadikan tempat pengumpulan sampah dan lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Areal ini semula merupakan bekas lahan galian tanah untuk kepentingan pembangunan babarapa perumahan di Jakarta, seperti sunter, Podomoro, dan Kelapa gading serta perbaikan jalan di Narogong.

Areal TPST Bantargebang mencakup tiga desa dari delapan desa yang ada di wilayah kecamatan Bantargebang,yaitu desa Ciketing, desa Cikiwul, dan desa Sumur batu.tpst ini menetapkan metode sanitary landfill yang terdiri atas lima zona dengan total area seluas 108 Ha. Perencanaan pembangunan lokasi TPST ini telah dilakukan secara matang. Menurut dinas kebersihan DKI Jakarta pembuatan sanitary landfill pada zona v (lima) tpst bantargebang telah dilengkapi pembangunan penyiaoan lahan, perpipaan untuk mengumpulkan air sampah (leachate), jalan permanan, tanggul jalan, saluran drainase, dan ventilasi.

2. PEMBAHASAN

A. KONDISI EKONOMI MASYARAKAT BANTARGEBANG

Krisis moneter tahun 1997 memberikan efek terhadap TPST Bantar Gebang. Sampah menjadi tumpuan sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat urban. Tumbuhnya perumahan liar di sekitar TPST menimbulkan permasalahan yang perlu disikapi. Berdasarkan survey di zona I MCK penduduk masih jauh dari kriteria sehat karena jarak sumur sebagai sumber air dan kakus cukup dekat. Keadaan ini memperparah kondisi lingkungan TPST yang ditandai dengan banyaknya keluhan penyakit yang dialami penduduk. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa 83,95% penduduk urban bermata pencarian pemulung, 6,17% wiraswasta, 3,7% buruh pabrik, 6,17% petani.

Masyarakat di sekitar TPST mengambil kesempatan memilah sampah organik dan anorganik . Plastik, botol bekas, kaleng, kaca merupakan bahan bekas yang dapat didaur ulang. Kontribusi pemulung dalam mendaur ulang sampah cukup besar, tetapi proses pencucian sampah plastik belum memperhatikan aspek kebersihan. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah lalat yang jumlahnya di atas kriteria baku mutu. Pemilahan sampah anorganik membantu sistem sanitary landfill karena sampah organik telah terpisah, tetapi upaya pemilahan belum optimum sehingga masih ditemukan sampah organik dan anorganik masih tercampur. Plastik yang tidak terurai ini dapat menimbulkan masalah lingkungan. Usaha pengumpulan sampah plastik, kaca, besi memberikan nilai positif bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar TPST Bantar Gebang karena limbah ini merupakan komuditi yang bernilai ekonomi.

B. KONDISI SOSIAL MASYARAKAT BANTARGEBANG

Apa yang terlintas di benak anda, ketika mendengar Bantar Gebang? Jorok, bau, bahkan menjijikan. Justru dari tempat inilah permasalahan sampah di DKI Jakarta yang mencapai 20 juta kubik perhari dapat sedikit teratasi. ”Gali lubang, tutup lubang” begitulah kondisi yang terjadi, ketika satu masalah teratasi,muncul masalah baru lagi.

Gurun sampah, deruman truk, dan ribuan orang bersama-sama dengan lalat tumpah ruah menjadi satu. Sejauh mata memandang, aneka warna-warni sisa kaleng, kertas, plastik, mendominasi pemandangan di ujung Timur kota Bekasi. Apalagi ketika musim penghujan tiba, air sumur tercemar bahkan menimbulkan bau tak sedap. Kondisi semacam inilah yang terpaksa dihadapi masyarakat sekitar, beserta ribuan masyarakat pengais sampah di area itu.

Begitulah pengamatan langsung di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu silam. Setali tiga uang, kondisi lingkungan dan tempat tinggal di dalam area TPST sangat memprihatinkan. Ketiadaan sanitasi, air tanah yang buruk adalah kondisi umum kehidupan mereka, yang tidak bisa disebut dengan hidup ”layak”.

Seperti yang dirasakan Abdul Rohim (36) lelaki asal Indramayu, Jawa Barat ini. Keinginannya merantau ke Jakarta untuk menikmati hidup layak harus mulai dilupakan, ketika dirinya harus terdampar di “negeri sejuta sampah” ini. Namun dengan ikhlas ia menjalani kehidupan yang masih jauh dikatakan layak. Dengan berpenghasilan dua ratus ribu rupiah tiap bulan, Rohim terpaksa bertahan bersama istri dan ketiga anaknya.

Rumah layak, pakaian bagus, dan kesehatan, semuanya itu bagaikan angan-angan yang sulit menjadi kenyataan bagi mereka. Kehidupan pas-pasan yang mereka harus jalani, membuat komunitas ini tidak memperhatikan kesehatan. “Jangankan untuk hidup sehat, bisa makanan, dan berteduh saja sudah bersyukur. Kami hidup tidak mau macam-macam mas,”sela Wulan (30) istri Abdul Rohim.

Bagai “Buah Simalakama” mereka harus menelan kenyataan tersebut. Kondisi seperti diatas adalah potret sebagian kecil masalah yang terjadi di sana. Pencemaran lingkungan, masalah kesehatan, pendidikan dan kemiskinan adalah “virus” yang mengikuti mereka setiap saat. Bahkan diam-diam virus tersebut akan menggerogoti warga dan pemulung Bantar Gebang. Tiada yang dapat menjamin masa depan generasi muda di sana terselamatkan, tiada yang bisa memastikan keadaan mereka akan baik-baik saja, sementara puluhan masalah senantiasa menggelayuti setiap langkah mereka.

Hal itu dapat diminimalisasi, bila ada pihak yang bersungguh-sungguh mengubah kehidupan mereka. Bukan hanya ucapan manis di bibir terhadap kehidupan mereka. Yang mereka butuhkan adalah sebuah perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk anda.

Sebuah pertanyaan muncul kembali, apakah kita hanya menutup mata terhadap nasib mereka? Lalu bagaimana kontribusi kita untuk membantu meringankan beban hidup mereka? Jawabannya hanya ada di dalam hati nurani sing-masing.

C. DAMPAK TPST BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA

Pesatnya kegiatan pembangunan di wilayah kecamatan Bantar Gebang merupakan daya tarik tersendiri bagi penduduk daerah lain. Hal ini terutama disebabkan oleh banyaknya perusahaaan-perusahaan yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Jumlah penduduk Kecamatan Bantar Gebang pada tahun 1997 adalah 68.255 jiwa dan pada tahun 1998 meningkat menjadi 70.559 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak adalah desa Bantar Gebang, Mustika Jaya, dan Pedurenan

Sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997 terjadi peningkatan urbanisasi yang cukup signifikan. Gejala ini juga diikuti oleh terdapatnya peningkatan jumlah pendatang yang mendirikan perumahan liar di sekitar TPST. Kondisi lingkungan yang buruk berpengaruh pada kesehatan penduduk khususnya anak-anak yang diperlihatkan dengan penampilan yang tidak sehat. Hal ini diperburuk lagi dengan keikutsertaan anak-anak membantu orang tuanya memilah sampah berupa plastik, botol, kaca, kain, dan benda-benda lain yang memiliki nilai tukar yang cukup berarti. Berdasarkan harian Republika 5 Oktober 1999 penyakit yang diderita oleh penduduk di sekitar

TPST Bantar Gebang adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) , penyakit gigi, infeksi kulit, anemia, diare, disentri, pneumonia, dan infeksi telinga.

D. DAMPAK TPST BAGI LANGKUNGAN SEKITARNYA

Gunung sampah itu semakin hari semakin meninggi. Mobil-mobil pengangkut sampah tak henti-hentinya berlalu-lalang keluar masuk lokasi pembangunan sampah di Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi. Semenjak puluhan tahun silam, sampah bagi masyarakat di sekitar TPST Bantargebang telah menjadikan segalanya berubah.

Dari sudut ekonomi, tak sedikit juga masyarakat yang diuntungkan dari beroperasinya TPST Bantargebang. Sebaliknya, tak sedikit warga yang merasa dirugikan. Bahkan, jika dilihat dari sudut kesehatan, sudah barang tentu tidak ada yang merasa diuntungkan.

Warga Ciketing Udik RW. 05 salah satu contohnya. Kampung yang jaraknya hanya kurang lebih 150 meter dari lokasi TPST ini sejak beberapa bulan terakhir mengeluhkan air dari sumur rumahnya tidak bersih lagi. Menurut warga setempat, hal ini diakibatkan rembesan air yang berasal dari gunung sampah di TPST. Rembesan itu mengkontaminasi air tanah, yang juga banyak digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masih dari Desa Ciketing Udik, sejak bertahun-tahun lalu warga sudah merasa was-was akan bahaya sampah terhadap kesehatan masyarakat. Menurut masyarakat setempat, banyak diantara warga Ciketing Udik menderita batuk-batuk, gatal-gatal, penyakit kulit, dan muntaber.

Lain halnya permasalahan yang dihadapi masyarakat RT. 02 dari kelurahan yang sama. Masyarakat yang didominasi petani padi ini selama tiga tahun terakhir mengeluhkan menurunnya hasil padinya setiap kali panen. “Kami nyaris gagal panen karena adanya lalat dan hama yang ditimbulkan sampah tersebut,” kata Tacin Ketua RT 02 Kelurahan Ciketing Udik.

Tacin mengaku mulai menyadari imbas dari keberadaan TPST Bantargebang di wilayahnya. Ia mencontohkan, air yang biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga, mulai berbeda dari biasanya. “Kalau pagi menuangkan air ke dalam gelas ada kotoran yang berasal dari airnya, kami khawatir itu akan menjadi sebuah dampak yang tidak baik, kemungkinan bisa menimbulkan penyakit,” imbuh Tacin.

Hal senada dilontarkan salah seorang tokoh masyarakat Ciketing Udik yang menyatakan masyarakat di kampungnya mulai tidak tenang dengan situasi seperti ini. Masyarakat menuntut kebijakan pemerintah agar TPST Bantar gebang ditutup secara total. Adapun dana kompensasi sebesar Rp 50. ribu per bulan, direalisasikan dalam bentuk bangunan fisik, seperti masjid. “Kalau enggak begitu pasti akan timbul benturan. Karena jangankan warga yang dekat dengan TPST, yang jauh juga ingin menikmatinya,” katanya.

permasalahan yang dihadapi masyarakat di sekitar TPST Bantar Gebang tidak hanya berhenti sampai disini. Tatkala musim hujan datang, warga semakin was-was akan bahaya longsor. Pasalnya, tanah yang menjadi medan tumpukan sampah tak mampu lagi menahan air hujan.

“Tatkala musim kemarau, sampah akan terbakar dengan sendirinya karena sampah yang berbentuk plastik dan bahan kimia mudah terbakar bila terkena sorotan matahari,” tutur Sukara warga Sumur Batu, Bantar Gebang salah seorang pemulung yang berasal dari Indramayu.

“Kalau tidak ditutup dengan tanah pasti akan terjadi kebakaran karena kebakaran ini sering terjadi, walau pun demikian itu tidak akan aman karena kalau musim hujan saya khawatir akan longsor, tidak ada kekuatan yang menahan sampah-sampah tersebut,” lanjut pemulung yang sudah beraktifitas selama tiga tahun di TPST Bantar Gebang ini.

Di tempat terpisah, pihak kelurahan Ciketing Udik, Anen Samsudin menyatakan, keluhan warga Kelurahan Ciketing Udik merupakan hal yang wajar. Namun, ia meminta semua pihak untuk duduk bersama agar hal tersebut dapat dimusyawarahkan, sehingga aspirasi masyarakat dapat tertampung, dan kedepannya pengelolaan sampah di TPST tidak merugikan siapapun,

“Masalah dana kompensasi juga perlu dikedepankan untuk mencapai kesepakatan apakah nantinya dana itu fifty-fifty untuk dibagikan langsung berupa dana kompensasi dan pembangunan fisik? itu perlu dimusyawarahkan karena itu merupa¬kan hak warga, agar semua pihak merasa diuntungkan,” komentar Anen Samsudin,

Sementara, pemerintah kota Bekasi menekankan perlunya orang-orang yang ahli untuk menangani pengelolaan sampah di TPST Bantar Gebang secara profesional. Karena, tak mudah untuk mengatasi masalah sampah yang sudah menggunung itu tanpa teknologi yang canggih.

“Bagaiman caranya dengan teknologi canggih bisa mengatasi masalah tumpukan sampah yang sudah menggunung? Tapi masalahnya, tumpukan sampah di TPST Bantar Gebang sudah sulit dipisahkan antara jenis organik dan non organik, seperti di Bali, agar bisa dikelola dengan baik, dan tidak terjadi penumpukan seperti di TPST Bantar Gebang.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pemulung tak dapat kita hindarkan dalam kehidupan sehari-hari di kota Jakarta. Banyak pemulung yang mengais rejeki dari tumpukan sampah di Jakarta sebagian besar bukan merupakan penduduk asli kota Jakarta. Mereka adalah para urban yang nekad mengadu nasib di Jakarta demi mencari penghidupan yang lebih baik daripada di kampung halamannya.

Keadaan tersebut harus mereka hadapi mengingat semakin banyaknya kebutuhan diikuti dengan meningkatnya harga barang-barang pemuas kebutuhan tersebut. Untuk dapat memenuhi kebutuhan fisik mereka, mereka harus melakukan segala hal, termasuk menjadi pemulung.

Kawasan Bantar Gebang yang bertahun-tahun menjadi TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) bagi sampah-sampah di Jakarta adalah tempat yang sangat tidak layak untuk dijadikan tempat pemukiman bagi para urban yang mengadu nasib di Jakarta dengan menjadi pemulung. Tentu saja tempat tersebut sangat tidak memenuhi criteria standar untuk kebersihan dan kesehatan. Namun keadaan ini dimanfaatkan oleh para pemulung untuk mengais rejeki. Pemulung yang bermukim di TPST Bantar Gebang tersebut memilah sampah organik dan anorganik. Kontribusi mereka dalam mendaur ulang sampah cukup besar, tetapi proses pencucian sampah plastik belum memperhatikan aspek kebersihan.

Walaupun kehidupan di Jakarta tak jauh lebih baik dari kehidupan di kampung halaman mereka, namun setiap habis lebaran semakin banyak saja para urban yang berdatangan ke Jakarta dari pada orang yang pulang kampung. Bagi mereka, setidaknya masih banyak hal di Jakarta yang dapat dijadikan uang. Bahkan sampah di Jakarta masih dapat dijadikan komoditi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan begitu mereka dapat terus bertahan hidup di Kota Jakarta dan enggan pulang kampung.

B. Saran

Semakin banyaknya masyarakat Jakarta yang hidup di bawah garis kemiskinan, tentu tingkat kejahatan juga akan semakin meningkat. Dengan begitu diharapkan kerjasama dari bebagai pihak untuk dapat mengatasi hal tersebut. Tak hanya Pemerintah, peran serta pihak swasta juga diharapkan untuk mentertibkan kehidupan di kota Jakarta.

Untuk mengatasi masalah pemulung ini memang sangat sulit dilakukan mengingat memang sudah tidak ada tempat lagi di Jakarta untuk menampung para pemulung di tempat lain selain di Bantar Gebang. Para urban yang terus berdatangan membuat Kota Jakarta semakin padat penduduk. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh Pemerintah atau pihak swasta adalah dengan lebih memperhatikan sanitasi dan kesehatan di pemukiman pemulung, dalam hal ini adalah Bantar Gebang. Hal tersebut dapat dimulai dengan menyediakan saluran air bersih dan memperbanyak MCK untuk mereka.

Dengan memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kesehatan bagi para pemulung di lingkungan sekitar mereka, niscaya tingkat kematian bagi para pemulung dapat ditekan dan dapat membantu memperbaiki penghidupan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

www.bappedajakarta.o.id/jkt bangun/#rencana

Iryanto, Tata. 2000. Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya : Indah Surabaya

http://www.bappedajakarta.go.id/images/prediksisampahbig.gif

http:www.bappedajakarta.go.id/jktbangun/#rencana sampah

http://www.indoconstruction.com/200108/#Ir. Franciscus S Hardianto, MSCE, PE.

www. Google. com

0 komentar more...

0 komentar

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

slide

My Visitors

free counters

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!